Jakarta – Sejumlah mahasiswa menggelar kegiatan diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi Kolonialisme di Jaman Kita di Lobby Kampus STMIK STIE Jayakarta, kawasan Kenari, Senen, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026) malam.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB itu diikuti kurang lebih 30 peserta dari kalangan mahasiswa. Acara berlangsung menggunakan layar proyektor dan sound system sederhana dengan pengamanan dari aparat kepolisian.

Film dokumenter berdurasi sekitar 90 menit tersebut menyoroti kehidupan masyarakat adat di Papua, khususnya di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, yang disebut terdampak ekspansi proyek strategis nasional (PSN), seperti pembukaan lahan perkebunan dan cetak sawah.
Dalam diskusi usai pemutaran film, narasumber Alfred Pebika yang diperkenalkan sebagai tokoh muda Papua menyampaikan pandangannya terkait kondisi masyarakat adat di Papua. Ia menilai pembangunan yang dilakukan belum sepenuhnya melibatkan masyarakat adat setempat.
“Warga adat merasa ruang hidupnya semakin terbatas akibat pembukaan hutan untuk proyek perkebunan dan persawahan. Banyak masyarakat yang sebelumnya bergantung pada hutan kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Alfred dalam forum diskusi.
Peserta diskusi juga membahas sejumlah isu yang diangkat dalam film, mulai dari dampak pembangunan terhadap hutan adat, ketahanan pangan masyarakat lokal, hingga persoalan sosial yang muncul di tengah proyek pembangunan nasional.
Film Pesta Babi diketahui merupakan garapan kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace, dan LBH Papua Merauke. Film tersebut disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Kegiatan nobar dan diskusi berakhir sekitar pukul 20.58 WIB. Selama acara berlangsung, situasi terpantau aman dan kondusif dengan pengamanan dari empat personel kepolisian.
(Humas Polres Metro Jakarta Pusat)









