Jakarta – Ratusan pedagang eks Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap merealisasikan janji revitalisasi pasar. Permintaan itu muncul setelah beredar informasi bahwa kawasan bekas Pasar Taman Puring akan dialihfungsikan menjadi taman difabel pada 2027.
Para pedagang menilai rencana tersebut bertentangan dengan komitmen yang sebelumnya disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk membangun kembali Pasar Taman Puring sebagai pasar rakyat.

Perwakilan pedagang, Januar, mengatakan para pedagang hingga kini masih menunggu kepastian mengenai pembangunan kembali pasar yang terbakar pada Juli 2025. Menurut dia, revitalisasi merupakan harapan utama para pedagang untuk kembali menjalankan usaha secara layak.
“Kami memohon agar sesuai dengan janji Bapak Gubernur saat menyampaikan di media. Beliau mengatakan Pasar Taman Puring adalah pasar rakyat yang dibutuhkan masyarakat. Kami berharap janji itu bisa dipenuhi,” ujar Januar.
Ia mengaku kecewa setelah mendengar adanya rencana penataan kawasan yang disebut mengarah pada pembangunan taman difabel. Menurutnya, perubahan tersebut menimbulkan ketidakpastian bagi pedagang yang selama ini menggantungkan mata pencaharian di kawasan itu.
“Kami merasa kecewa. Awalnya kami berharap pasar direvitalisasi, tetapi sekarang yang kami dengar justru akan dijadikan taman difabel. Kami tidak tahu kenapa bisa berubah seperti itu,” katanya.
Pasar Taman Puring terbakar pada 28 Juli 2025. Kebakaran itu menghanguskan kios beserta barang dagangan para pedagang. Sejak saat itu, sebagian pedagang bertahan dengan membuka lapak dan tenda darurat di sekitar lokasi bekas kebakaran untuk mempertahankan penghasilan.
Kepala Pasar Taman Puring, H. Warman, mengatakan dampak kebakaran masih dirasakan hingga sekarang. Selain kehilangan seluruh barang dagangan, jumlah pengunjung juga belum kembali seperti sebelum kebakaran.
“Barang kami habis semua saat kebakaran. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Lalu daya beli masyarakat juga menurun. Pengunjung ke Taman Puring sekarang jauh berkurang dibanding sebelum kebakaran,” ujarnya.
Menurut Warman, kondisi tersebut memperberat beban pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama bertahun-tahun menggantungkan pendapatan dari aktivitas perdagangan di Pasar Taman Puring.
Ia juga menilai belum ada kepastian mengenai penyelesaian persoalan para pedagang. Meski aspirasi mereka sempat mendapat perhatian dari sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta, hingga kini belum ada keputusan yang memberikan kepastian mengenai pembangunan kembali pasar.
Dengan rencana penataan kawasan yang disebut akan dimulai pada 2027, para pedagang berharap pemerintah membuka ruang dialog sebelum mengambil keputusan final.
“Kami masih berharap pembangunan dilakukan sesuai janji awal. Kami butuh dukungan dari masyarakat dan pihak-pihak yang bisa membantu kami,” kata Warman.
Menurut dia, Pasar Taman Puring memiliki nilai historis sebagai salah satu pusat perdagangan legendaris di Jakarta Selatan. Karena itu, penataan kawasan dinilai seharusnya tetap mengakomodasi keberadaan pedagang yang selama puluhan tahun mencari nafkah di lokasi tersebut.
“Pasar Taman Puring ini pasar legendaris. Kami ingin pasar ini tetap bertahan. Kalau pemerintah ingin menata kawasan, silakan dikembangkan dan dikolaborasikan, tetapi jangan menghilangkan pedagang asli dan rakyat kecil yang mencari nafkah untuk keluarga mereka,” ujarnya.
Data pedagang menyebut lebih dari 500 pedagang terdampak kebakaran Pasar Taman Puring. Mereka meminta pemerintah menunda rencana alih fungsi kawasan hingga ada kepastian mengenai pembangunan kembali pasar.
Hingga berita ini disusun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan pedagang maupun mengenai kepastian rencana penataan kawasan Pasar Taman Puring pada 2027.









